Dapatkah kau melihat mereka?

Mereka yang membuka kedua telapak tangannya tuk meminta,

pada siapa saja yang melewatinya,

dan tak malu tuk tidak diacuhkan dirinya.

Taukah kau apa yang mereka mereka minta?

Bukan kepingan-kepingan uang yang biasa kau beri dari saku bajumu,

atau sebungkus nasi tuk meredam laparnya diri,

atau hanya sekedar belas kasih agar hidup mereka diakui.

Sesungguhnya bukan itu yang mereka minta.

Sosok para pemimpin negeri yang membumikan nilai keadilan,

Yang memancarkan nilai kejujuran,

Dan yang selalu menggenggam kuat kepercayaan.

Itu yang mereka minta dari setiap orang yang melaluinya.

Dapatkah kau melihat mereka?

Mereka yang menebar dan menumbuhkan berbagai benih,

pada tanah yang tak lagi sesubur dahulu kala.

Taukah kau harap apa tuk dapat dituai dari benih-benih itu?

Bukan bulir-bulir padi terbaik darinya,

atau sayur-mayur yang penuh kesegaran,

atau buah-buah bermacam warna dan rasa,

tuk mereka perjual-belikan nantinya,

yang terkadang apa yang mereka dapat,

tak sebanding dengan banyak keringat tuk menumbuh suburkan benih-benih tersebut.

Sesungguhnya bukan itu yang mereka harap tuk dapat dituai.

Kehidupan yang lebih baik, yang dipenuhi kedamaian, dan kesejahteraaan,

Yang tercipta dari tangan para pemimpin terbaik bangsa, Yang arif lagi bijaksana

Yang dapat menentramkan hati-hati rakyatnya,

dan yang dapat mewarnai kehidupan dengan berbagai kebaikan rasa.

Itulah yang mereka harap tuk dapat dituai,

dari benih-benih yang tertanam pada tanah air bangsa.

Dapatkah kau melihat mereka?

Mereka yang berada disudut kehidupan,

menatap dirimu dengan mata berkaca,

dalam sebuah penantian lama.

Seolah kedua matanya memohon kepadamu,

tuk menghapus kesedihan yang mereka rasa,

kepiluan yang menyesakkan dada,

dan kesulitan yang menghimpit jiwa.

Namun mereka tetap menantimu,

para pemimpin masa depan,

di sebuah pintu gerbang harapan,

Tuk melepas belenggu-belenggu,

dan bersama mewujudkan tiap-tiap damba,

akan gemilangnya tanah air indonesia.

Apa yang membuat diri ini tak tergerak,
Untuk menyambut panggilan jihad fisabilillah,
Dan meninggalkan kenyamanan hidup yang melenakan?
Padahal sungguh kenyamanan itu hanyalah tipu daya dari musuh-musuh Allah.

Apa yang membuat diri ini enggan bersusah payah
Untuk membela Agama Allah?
Padahal sungguh di dalam kesulitan itu
Terdapat berbagai kenikmatan yang telah dijanjikan-Nya.

Apa yang membuat diri ini begitu mencintai hidup yang sementara,
dan menginginkan keabadian hidup di dalamnya,
dan begitu berat menyerahkan harta dan jiwanya di jalan Allah?
Padahal sungguh apa yang ada di sisinya akan terlepas,
seiring terlepas jasad dari tubuhnya,
padahal harta dan jiwanya itu sendiri bukanlah miliknya,
melainkan ia milik Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kekal.

Apa yang membuat diri ini tidak mau mengikuti,
jejak para ahlusunah wal jamaah yang Allah Meridhoi mereka?
Padahal mengikuti jejaknya adalah satu-satunya jalan,
menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Apa yang membuat diri ini begitu mengelu-elukan manusia-manusia,
yang tidak ada keimanan di hatinya,
menyebut-nyebut selalu nama-namanya, memasang wajah-wajahnya,
di tiap sudut hatinya, dan lebih merindu perjumpaan dengannya?
Padahal kelak di akhirat ia akan berlepas diri darimu,
dan ia takan mampu sedikitpun memberimu syafaat,
lalu kau dan dia Allah Lemparkan ke dasar neraka yang menyala-nyala!

Apa yang menyebabkan diri ini begitu berat,
mentadaburi kitabullah yang suci, menelurusi sunnah yang lurus,
dan mengambil hikmah darinya, dan menjadikannya pedoman dalam
menjalani hidup?
Padahal dengan berpegang teguh kepada keduanya,
niscaya takan tersesat engkau selamanya.

Dan apa yang membuat diri ini merasa berat untuk menolong
saudara-saudara seimannya,
yang tiap harinya ia bergelut dengan kematian di sekitarnya,
yang berbagai macam fitnah dialamatkan kepadanya,
yang walau hanya bermodal kalimatullah di hatinya dan batu-batu
ditangannya,
ia mencari kesyahidan dengan melawan kezaliman di bumi Allah?
Dan ironisnya mengapa engkau malah berteman dengan meraka,
yang berbuat lalim terhadap saudara seimanmu sendiri?

Bila hati ini demikian keras seperti batu,
ku mohon pada-Mu ya Allah, lunakanlah ia dengan Kuasa-Mu…
Bila hati ini demikian gelapnya bagai malam tanpa rembulan,
ku mohon pada-Mu ya Allah, terangilah ia dengan Cahaya-Mu…
Bila hati ini demikian jauhnya tersesat dari jalan-Mu,
ku mohon pada-Mu ya Allah, tunjukanlah ia kepada jalan tuk kembali
kepada-Mu…
Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penerima Taubat.

Saatku merasa letih dalam jalan perjuangan,
ia hadir dan menyisipkan kata-kata bermuatan kebijaksanaan,
membangkitkan kembali sejatiku,
meyakinkan bahwa mu’min bukanlah manusia lemah,
kekuatannya adalah kalimat tauhid,
yang tercermin dalam tiap sudut kehidupannya.

Saat kesulitan dalam jalan perjuangan menghimpit,
ia hadir dan menyisipkan kata-kata bermuatan kebijaksanaan,
melapangkan kembali hati yang sempit,
menyegarkan kembali sejatiku,
mengingatkan bahwa hanya kepada Allah-lah kembali segala urusan,
dan Dia akan selalu bersama hamba-hambanya yang soleh.

Saatku merasa kemenangan telah teraih,
ia hadir dengan kata-kata bermuatan kebijaksanaan,
menarik kembali diriku dengan hatinya yang meninggi,
mengingatkan sejatiku bahwa sesungguhnya Allah-lah yang telah memenangkan,
dan Milik-Nya-lah kemenangan itu.
Mengingatkan bahwa kemenangan bukanlah ujung dari perjuangan.

Saatku berada dalam kubangan dosa,
ia hadir dengan kata-kata bermuatan kebijaksanaan,
ia menampar sejatiku, keras kata-katanya, dalam nasehatnya,
dan tajam pandangannya, menyadarkanku kembali.
Orang yang yakin akan hari akhir dan pembalasan,
takkan melakukan perbuatan-perbuatan keji itu.

Saatku dilanda kesedihan karena tak tergapainya harapan,
ia hadir dan menyisipkan kata-kata bermuatan kebijaksanaan,
menghibur dan mengangkat sejatiku,
dengan senyum ikhlasnya yang menyejukan,
dengan candaannya yang tak jarang mengundang gelak tawa^^,
serta rangkulan dan nasehatnya penghapus duka lara.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Wahai sahabatku, ku berdoa agar engkau senantiasa dalam lindungan-Nya,
senantiasa berada dalam Rahmat-Nya, hidup diiringi oleh Ridho-Nya,
senantiasa dinaungi oleh Mahabbah-Nya,
serta balasan yang kebaikannya berlipat-lipat dari sisi-Nya.
Dan harapku, kita dapat bercengkrama bersama,
di atas dipan-dipan nan indah, di tempat yang hanya ada kebaikan di
dalamnya,
di surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Amin
kuatkan langkahmu, teguhkan keyakinanmu, mari melangkah bersama,
dalam barisan yang teratur, untuk meraih Keridhoan-Nya.
Cintaku untukmu karena Allah…

Hayya ‘Alal Jihad!!

June 8, 2008

Dengarlah, wahai Pemuda Muslim!
Genderang da’wah telah bertabuh kembali,
membakar semangat para pejuang Dienullah,
semangat yang tak tebendung lagi.
Ia memanggil jiwa-jiwa pemberani,
yang rindu akan hidup dalam kesyahidan!
Hayya ‘Alal Jihad!!

Lihatlah, wahai Pemuda Muslim!
Panji-panji Islam itu telah kembali ditegakkan,
menyambut tegaknya bangunan Islam yang utuh,
yang pernah terbentuk pada zaman kenabian.
Ia memanggil jiwa-jiwa Pembaharu,
yang merindukan keadilan tegak di muka bumi,
Hayya ‘Alal Jihad!!

Bangunlah, wahai pemuda muslim!
dari bangunnya engkau dalam tidurmu,
lalu sambutlah panggilan jihad,
dan gentarkanlah hati musuh-musuh Allah,
hingga ia tak mampu berdiri, kecuali dengan susah payah,
dengan semangat yang membara,
dan dengan keimanan yang membaja!!
HAYYA ‘ALAL JIHAD!!
ALLAHUAKBAR!!!

Pembuktian

June 8, 2008

Ya Allah, ketika hamba merasakan, ada sesuatu yang merasuki hati ini,
dengan begitu lembut dan perlahan, lalu meliputinya,
sesuatu yang meninggalkan goresan halus namun mendalam, yang diartikan
oleh pikiran hamba sebagai rasa cinta serta rindu,
Rindu akan perjumpaan dengan-Mu,
Rindu akan indahnya Wajah-Mu yang tiada dapat diungkapkan
Juga rindu akan perjumpaan dengan rasul-Mu, yang cintanya terhadap
umatnya, melampaui rasa sakit di hati serta di tubuhnya
Yang terkadang, rasa rindu itu begitu menyesakan karena kuatnya,
Ayat-ayat-Mu muncul dalam ingatanku,
Ayat-ayat-Mu yang seketika membuat diri ini tertunduk penuh malu,
Ayat-ayat-Mu yang membuat diri ini menyadari akan keburukan-keburukannya,
Lalu kembali mempertanyakan kebenaran atas rasa itu.

“Katakanlah,’jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah Mengasihi dan Mengampuni dosa-dosamu.”Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Katakanlah,’Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang kafir’.” (Ali-Imran:31-32)

Ayat-ayat-Mu seketika menghentakkan hati dan fikiranku, adakah diri
ini hanyalah seseorang yang hendak menipu Allah? sudahkah diri ini
menjadikan Rasul-Mu sebagai Panutan kami ketika kata-kata cinta dan
rindu terucap untuknya?

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang
Allah belum Mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di
antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia kecuali
Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (At-Taubah:16)

Ayat-ayat-Mu seketika menghentakan hati dan fikiranku, hentakan keras
bagai terhentinya sesuatu yang bergerak sangat cepat karena terbentur
tembok yang sangat kokoh!
Apakah diri ini hendak menipu-Mu Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja)
mengatakan, ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah Menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka sesungguhnya Allah Mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia Mengetahui orang-orang yang dusta.
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa
mereka akan luput dari (Azab) Kami? Amat buruklah apa yang mereka
tetapan itu.
Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut:1-5)

Lagi, begitu kerasnya ayat-ayat suci-Mu menghentakan hati dan fikiran
kotor ku ini, yang menganggap telah baik dan lurus diri ini,
Malu sekali ya Allah, malu sekali…sedangkan belum terbukti kebenaran
isi hati ku dalam amalan nyata ku, seolah-olah terbukalah seluruh
aib-aib diri ini tanpa hijab yang menghalangi.
Apakah diri ini mengira bahwa cinta dan rindu itu tidak memerlukan
perjuangan dan pengorbanan sebagai bukti kesungguhannya?
Kecil diri ini ketika teringat betapa perkasanya rasul-Mu dan para
sahabat berlaga di medan perang, tak gentar sedikitpun dan tak mundur
sejengkalpun menghadapi beribu-ribu tentara musuh dihadapan mereka.
Merasa lemah diri ini ketika mengingat kokohnya rasul-Mu dan para
sahabat mempertahankan keimanannya, yang mereka letakkan di atas harta
dan nyawa mereka.
Dan ketika hamba menelusuri ayat-ayat-Mu, dan menyusuri sirah
Rasul-Mu, lalu mendapati diri ini lebih menaruh hati pada sesuatu yang
tak abadi, seolah-olah tak ada lagi kehormatan yang tersisa pada diri ini.
Hamba malu kepada-Mu dan kepada umat-umat terdahulu yang engkau ridho
kepada mereka.
Hujan deras yang engkau turunkan ke bumi, mewakili kesedihan diri ini…

“Katakanlah ,’Hai Hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah Mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Az-Zumar:53)

Entah bagaimana aku mengungkapkan ke-MahaKasih-an-Mu terhadap
hamba-hamba-Mu yang melampaui batas seperti diriku ini.
Berlalunya hujan deras itu, menyimpan harapan, kesejukan, dan
kehangatan. seperti harapan terampuninya diri ini setelah dosa-dosa
yang menghinakan.
Harapan tersampaikannya cinta dan rindu kami kepada-Mu dan kepada
rasul-Mu SAW.
Ya Allah, jangan kembalikan kami ke dalam kubangan dosa, setelah
engkau berikan cahaya-Mu kepada kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar , dan Sungguh tak akan mengurangi
Kekuasaan-Mu sedikitpun dalam mengabulkan permohonanku ini.
Ku serahkan solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya kepada-Mu.
(dalam perjalanan menuju kota kembang pada hari turunnya hujan,
20/04/08, 7:45 pm)