Sang Qudwah
June 17, 2008
Apa yang kau harapkan dariku,
tuk melepas dahaga fikirmu?
Akan ku jahit lisanku,
dan ku biarkan diriku tenggelam dalam samudera merah muda
Akan ku tutup rapat pengelihatanku,
dan ku biarkan anganku melukiskan keindahan akhlaknya
Akan ku selimuti kulitku,
dan ku biarkan ia merasakan lembut akan kasih sayangnya
Ku harap kau tak tau,
apa yang ku ucap,
apa yang ku lihat,
dan apa yang ku rasa.
Karena ku takut melunturkan kebesaran,
Sang Qudwah para tentara, pemburu jannah di akhir zaman.
Bila Allah Hendak Membinasakan Seseorang (Hadits)
June 17, 2008
(direvisi tanggal 27/06/2008)
“Suatu hari Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabat, “Sesungguhnya apabila Allah ingin membinasakan seseorang maka Allah cabut rasa malu dari diri orang itu. Bila telah tercabut rasa malu dari orang itu maka tidak engkau dapati orang itu kecuali sangat keras dan kasar. Bila begitu keadaannya maka akan dicabut rasa amanah dari orang itu. Lalu tidak engkau dapati ia kecuali sebagai pengkhianat. Kalau sudah begitu akan dicabut rasa kasih sayang dari dirinya. Maka tidak engkau dapati ia kecuali terkutuk. Kalau sudah begitu akan dicabut tali-tali Islam dari dirinya.”” (HR Ibnu Majah)
sahabat, mari mengukur diri,
apakah rasa malu tlah dicabut dari diri kita, sehingg tabiat kita menjadi begitu keras dan kasar?
apakah tak lagi dapat kita rasakan beratnya amanah, sehingga dapat dengan mudahnya kita menghianati setiap kepercayaan yang dialamatkan kepada kita?
apakah tak ada lagi rasa kasih dan sayang tertinggal pada diri kita? hingga hidup kita dipebuhi oleh perkara-perkara yang buruk dan menjadi terkutuk?
tidak lagi ada kemuliaan hidup dan kesyahidan apabila tali-tali islam telah dicabut dari diri kita.
astagfirullahal ‘adziim…
Mencintainya SAW.
June 17, 2008
source : http://groups.yahoo.com/group/al-furqon-lines_06
by : syahidah mukhlishin
Mengaku mencintai adalah berat, tapi melakukan karena cinta adalah ringan.
ikhwah fillah, yuk qta evaluasi masing2 sejauh mana cinta qta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! untuk membaca email ini, lupakan dulu segala macam yang terpikirkan, jernihkan hati, merenung 10′ saja, bayangkan kisah yang dekat dengan kematian beliau. setelah itu, baca email ini dari atas ke bawah.
Bilal, budak hitam legam yang suara terompahnya terdengar di jannah
telah lama tak terdengar suaranya yang nyaring memanggil untuk shalat
dia tak pernah adzan lagi sejak Rasulullah saw wafat
kenapa dia disebut mu’adzin Rasulullah?
karena kerinduan yang besar untuk mendengarkan suara adzannya,
penduduk meminta sang Khalifah Umar agar Bilal mau adzan
Bilal menolak, Khalifah mendesak, Bilal naik ke atas menara
bukan tak mau, ada suatu alasan , meskipun akhirnya ia mencoba
maka Bilal pun memperdengarkan suara panggilannya
banyak suara yang tak kalah merdu, tapi nyaringnya itu benar2 menggema
ke semua penjuru hati jama’ah yang hendak shalat
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Asyhadu alla ilaha illallah… Asyhadu alla ilaha illallah…
Asyhadu anna… Asyhadu anna…
<suaranya tercekat, berulang2; penduduk bertanya-tanya, ada apa dengan Bilal?>
lidahnya kelu. kata “muhammad” tak mampu diucapkannya,
adzan tak kunjung selesai
rindunya meradang; semakin berusaha, suaranya semakin bergetar
tak sanggup, tak sanggup
tangisnya pecah
orang2 yang mendengarnya takkan tahan untuk membendung air mata
bahkan, suara tangis Khalifah adalah yang paling keras
cinta telah hadir di setiap penjuru masjid saat itu
<mode off>
sudah selesai? bacalah lagi, bayangkan jika ikhwah ada di sana mendengarkan adzan bilal, dan ingatlah kecintaan kekasih Bilal kepada ummatnya. bagaimana di tha’if, bagaimana terhadap pengemis yahudi yang buta, bagaimana tangis kerinduannya kepada saudara2 yang berjarak waktu dengannya, bagaimana saat ajal menjemputnya, bagaimana lembut hatinya dan bagaimana dia mema’afkan.
sekarang hadirkan cinta dalam gerakmu
barakallah,,
–
berda’wah bukan artinya qta harus suci dulu, tetapi berda’wah adalah satu langkah agar dosa ketidaksucian qta tertutupi dengan pahala amal da’wah qta. bersegeralah kepada ampunan Allah. sesungguhnya mu’min itu tak pernah putus asa kepada rahmat Rabbnya.
bertahanlah karena Allah memanggilmu, tidakkah kau menyambut seruanNya?
ikhwah, kau kuat! tak pantang patah meski benturan demi benturan menghantammu
hanya karena ada iman di dadamu…
ini hanya pengantar saat luka duka menganga karena kaum pembenci tak berhenti menjelekkannya,
tidakkah kau ingin bertemu dengan orang yang di saat ajal menjemputnya pun, dia masih memanggilmu?
Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad,,
Aku dan Da’wah (Sebuah Awalan)
June 17, 2008
Da’wah sangat mempengaruhi kehidupanku. Aku sangat bersyukur kepada Allah bahwa aku dilahirkan oleh orang tua yang beragama Islam. Orang tua kulah yang pertama kalinya memperkenalkan aku kepada Islam, mengajarkan aku tentang ketauhidan, tentang bagaimana seharusnya akhlak seorang muslim, bagaimana caranya beridah kepadaNya, walaupun pada awalnya ajaran yang diberikan kepadaku masih bersifat aplikatif, belum sampai pada pemahaman yang lebih mendalam.
Menjalani kehidupan artinya menjalani pilihan, pilihan antara kebaikan dan keburukan. Itulah yang ditawarkan lingkungan kepadaku dari masa kecil hingga saat ini. Kebaikan dan keburukan itu silih berganti menjadi penguasa diri aku, disitulah da’wah berperan dalam menjadikan kembali kebaikan sebagai penguasa ketika kejahatan berjaya.
Ketika memasuki masa SMA dan Perkuliahan, aku merasa di masa inilah yang paling sulit menjaga diri. Karena aku jarang bertemu orang tua, aku kehilangan lingkungan tempat tinggalku dulu yang sudah kondusif bagiku, dan di masa ini aku bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah yang tentunya juga membawa pengaruhnya masing-masing. Dimasa awal aku masuk SMA adalah masa yang paling menyedihkan dan paling suram bagiku, juga awal-awal perkuliahan. Aku telah berusaha sekuat mungkin untuk tetap menjaga diriku. Aku berusaha untuk tetap konsisten dengan amalan-amalan yang biasa aku lakukan di lingkunganku dulu.
Aku berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan hanya Allah dan RasulNya sebagai penguasa hati aku. Namun ternyata keimananku masih sangat rapuh. Selama beberapa lama, aku dapat merasakan, walau samara-samar, hati nurani aku bersedih, memohon pertolongan agar dikeluarkan dari keterpurukannya ketika hawa nafsuku berkuasa. Aku benar-benar seperti tawanan dalam tubuhku sendiri. Aku sangat sedih melihat diriku terus melakukan keburukan. Aku benar-benar menyesali diriku ketika itu.
Sampai pada akhirnya pertolongan Allah datang, melalui keluarga dan sahabat-sahabatku. Walau pada awalnya hawa nafsuku berontak, dan dengan keras ingin tetap berkuasa, namun alhamdulillah, dengan mendapat dukungan dan keinginan keras untuk berubah, aku dapat melepaskan diri dari kekangan nafsuku pada saat itu.
Tulisan ini mungkin tidak secara eksplisit memaparkan permasalahan-permalasahan apa saja yang ku hadapi, mungkin sebagian akan ku bagi nanti, dalam berbagai bentuk tulisan, dan sebagian ku simpan dalam peti mati. Yang jelas, aku hanya ingin berbagi indahnya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim yang mana da’wah tak akan jauh darinya.
Tanpa da’wah, mungkin aku tidak dapat melanjutkan fitrah aku sebagai seorang muslim. Tanpa adanya da’wah, mungkin keislamanku hanyalah sebagai pelengkap identitas yang aku miliki, tanpa adanya pemahaman yang lebih mendalam. Tanpa adanya da’wah, mungkin aku tidak dapat mempertahankan keislamanku sampai saat ini, dan aku memohon kepada Allah SWT, agar aku senantiasa diberi petunjuk kepada jalanNya, diberikan furqan, kekuatan dalam menjalankan perintahnya dan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan Islam serta husnul khatimah.
