Aku dan Da’wah (Sebuah Awalan)
June 17, 2008
Da’wah sangat mempengaruhi kehidupanku. Aku sangat bersyukur kepada Allah bahwa aku dilahirkan oleh orang tua yang beragama Islam. Orang tua kulah yang pertama kalinya memperkenalkan aku kepada Islam, mengajarkan aku tentang ketauhidan, tentang bagaimana seharusnya akhlak seorang muslim, bagaimana caranya beridah kepadaNya, walaupun pada awalnya ajaran yang diberikan kepadaku masih bersifat aplikatif, belum sampai pada pemahaman yang lebih mendalam.
Menjalani kehidupan artinya menjalani pilihan, pilihan antara kebaikan dan keburukan. Itulah yang ditawarkan lingkungan kepadaku dari masa kecil hingga saat ini. Kebaikan dan keburukan itu silih berganti menjadi penguasa diri aku, disitulah da’wah berperan dalam menjadikan kembali kebaikan sebagai penguasa ketika kejahatan berjaya.
Ketika memasuki masa SMA dan Perkuliahan, aku merasa di masa inilah yang paling sulit menjaga diri. Karena aku jarang bertemu orang tua, aku kehilangan lingkungan tempat tinggalku dulu yang sudah kondusif bagiku, dan di masa ini aku bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah yang tentunya juga membawa pengaruhnya masing-masing. Dimasa awal aku masuk SMA adalah masa yang paling menyedihkan dan paling suram bagiku, juga awal-awal perkuliahan. Aku telah berusaha sekuat mungkin untuk tetap menjaga diriku. Aku berusaha untuk tetap konsisten dengan amalan-amalan yang biasa aku lakukan di lingkunganku dulu.
Aku berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan hanya Allah dan RasulNya sebagai penguasa hati aku. Namun ternyata keimananku masih sangat rapuh. Selama beberapa lama, aku dapat merasakan, walau samara-samar, hati nurani aku bersedih, memohon pertolongan agar dikeluarkan dari keterpurukannya ketika hawa nafsuku berkuasa. Aku benar-benar seperti tawanan dalam tubuhku sendiri. Aku sangat sedih melihat diriku terus melakukan keburukan. Aku benar-benar menyesali diriku ketika itu.
Sampai pada akhirnya pertolongan Allah datang, melalui keluarga dan sahabat-sahabatku. Walau pada awalnya hawa nafsuku berontak, dan dengan keras ingin tetap berkuasa, namun alhamdulillah, dengan mendapat dukungan dan keinginan keras untuk berubah, aku dapat melepaskan diri dari kekangan nafsuku pada saat itu.
Tulisan ini mungkin tidak secara eksplisit memaparkan permasalahan-permalasahan apa saja yang ku hadapi, mungkin sebagian akan ku bagi nanti, dalam berbagai bentuk tulisan, dan sebagian ku simpan dalam peti mati. Yang jelas, aku hanya ingin berbagi indahnya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim yang mana da’wah tak akan jauh darinya.
Tanpa da’wah, mungkin aku tidak dapat melanjutkan fitrah aku sebagai seorang muslim. Tanpa adanya da’wah, mungkin keislamanku hanyalah sebagai pelengkap identitas yang aku miliki, tanpa adanya pemahaman yang lebih mendalam. Tanpa adanya da’wah, mungkin aku tidak dapat mempertahankan keislamanku sampai saat ini, dan aku memohon kepada Allah SWT, agar aku senantiasa diberi petunjuk kepada jalanNya, diberikan furqan, kekuatan dalam menjalankan perintahnya dan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan Islam serta husnul khatimah.

June 18, 2008 at 11:28 am
waalaikumsalam, dony bro..
sempat agag tersesat?
moga suatu hari kita sama-sama sampai pada satu-satunya tujuan yah.. ^^?
amin..