Ingin Ku Menyempurnakannya…

Bagai siang tanpa malam

Bagai penyesalan tanpa air mata

Bagai ilmu tanpa iman

Bagai akal tanpa hati

Bagai kemarau tanpa hujan

Bagai pena tanpa tinta

Dan bagai jasad tanpa jiwa

Ku mendamba, dia yang mencinta-Mu,

Melebihi cintanya terhadap apapun selain diri-Mu,

Lalu menyempurnakan separuh dari dien-Mu,

Merajut bersama beriringan,

Menuju keindahan cinta-Mu.

Engkau Maha Mendengar ya Rabb, bisikan-bisikan hati kecilku,

akan harapan hadirnya mutiara yang menentramkan jiwa,

juga rintihan-rintihan hati, atas ketidakmampuannya.

Untuk meredam ingin yang menyala-nyala.

Engkau Maha Mengetahui ya Rabb,

tak ada yang lebih mengetahui diriku, melainkan hanya Engkau semata.

Yang pada akhirnya, tempat terbaiknya segala urusan adalah pada sisi-Mu,

yang pada akhirnya, mendamba apa yang engkau titipkan dibalik kehendak-Mu.

Anugrahkanlah ya Rabb,

Hamba hati yang hidup, hati yang tajam, dan hati yang lapang.

Ku mohon ampunan atas segala keberlebih-lebihan-ku.

Realita Hati dan Kehidupan

Bukannya aku tak menaruh kasih kepadamu saudaraku,

Tapi lisan ini terlalu kaku tuk menyuarakan ketulusan hati.

Tidaklah ia akan sebening hati bila kata telah terucap.

Realita hati dan realita kehidupan terkadang seperti fatamorgana,

Kau melihat apa yang tak kau lihat.

Berbahagialah mereka yang dapat melihat keindahan hatinya,

melalui refleksi cermin kehidupannya

Ya Maliki, sungguh bagi-Mu tiada suatu rahasia apapun,

Kaulah yang paling memahamiku.

Jangan biarkan ku terlarut dalam kegelapan.

Ku hidup atas Nama-Mu Yaa Rahiim

Rahasia-Nya Sungguh Dekat

Ya Allah,

Tidaklah hamba terlelap dalam tidur,

Lalu dapat kembali terjaga darinya,

Melainkan atas seizin-Mu semata

Tidaklah hamba terduduk,

lalu dapat berdiri kembali,

melainkan atas seizin-Mu semata

Tidaklah hamba tertawa,

lalu terdiam kembali darinya,

melainkan atas seizin-Mu semata

Tidaklah hamba menghidup udara,

lalu menghembuskannya kembali

melainkan atas seizin-Mu semata

Tidaklah jantung hamba berdetak satu kali,

lalu mampu untuk berdetak untuk kali berikutnya,

melainkan atas seizin-Mu semata

Ku sadari ya Allah,

Sesungguhnya tidaklah dua hal dapat terjadi,

melainkan kematian kan senantiasa mengintai tuk menjemput

Maka hamba mohon kepada-Mu ya Allah,

jangan panjangkan anganku ini melebihi ketetapan-Mu atas diriku,

jangan panjangkan anganku ini, hingga hamba menunda,

kebaikan yang mampu ku lakukan sekarang

jangan panjangkan anganku ini, hingga hamba menunda,

taubat yang dapat ku lakukan detik ini

jangan panjangkan anganku ini, hingga hamba menunda,

segala yang Kau perintahkan dan yang Rasul-Mu SAW contohkan,

yang mampu hamba lakukan saat ini

Jadikanlah diriku ini sebagai hamba-Mu,

yang dapat merasakan kedekatan rahasia kematian,

hingga detik-detik yang ku lalui adalah,

detik-detik yang senantiasa ku persembahkan untuk-Mu

Hingga bila kau tak lagi memperkenankan,

jantung ini tuk berdetak di kali berikutnya,

detak terakhirnya adalah detak tuk membuktikan cintaku kepada-Mu

Hingga bila kau tidak memperkenankanku,

tuk menghembuskan kembali nafas setelah ku menghirupnya,

maka jadikanlah nafas terakhir yang kuhirup adalah,

nafas yang kubakar tuk berjuang di jalan-Mu

Bukan tuk mengikuti sesatnya jalan musuh-Mu,

ataupun tuk memperturutkan hawa nafsuku,

BUKAN! KU SUNGGUH BERHARAP BUKAN!

Aku mohon kepada-Mu ya Rabbul ‘alamin….

yang jiwaku senantiasa berada dalam genggaman-Mu.

Arti Diamku

Maafku pada beribu tebaran debu di udara

……

Terucap beribu kata di ruang hampa

……

Agar tak menjadi dusta dan menoreh beribu luka

Sang Qudwah

Apa yang kau harapkan dariku,

tuk melepas dahaga fikirmu?

Akan ku jahit lisanku,

dan ku biarkan diriku tenggelam dalam samudera merah muda

Akan ku tutup rapat pengelihatanku,

dan ku biarkan anganku melukiskan keindahan akhlaknya

Akan ku selimuti kulitku,

dan ku biarkan ia merasakan lembut akan kasih sayangnya

Ku harap kau tak tau,

apa yang ku ucap,

apa yang ku lihat,

dan apa yang ku rasa.

Karena ku takut melunturkan kebesaran,

Sang Qudwah para tentara, pemburu jannah di akhir zaman.

Bila Allah Hendak Membinasakan Seseorang (Hadits)

(direvisi tanggal 27/06/2008)

“Suatu hari Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabat, “Sesungguhnya apabila Allah ingin membinasakan seseorang maka Allah cabut rasa malu dari diri orang itu. Bila telah tercabut rasa malu dari orang itu maka tidak engkau dapati orang itu kecuali sangat keras dan kasar. Bila begitu keadaannya maka akan dicabut rasa amanah dari orang itu. Lalu tidak engkau dapati ia kecuali sebagai pengkhianat. Kalau sudah begitu akan dicabut rasa kasih sayang dari dirinya. Maka tidak engkau dapati ia kecuali terkutuk. Kalau sudah begitu akan dicabut tali-tali Islam dari dirinya.”” (HR Ibnu Majah)

sahabat, mari mengukur diri,

apakah rasa malu tlah dicabut dari diri kita, sehingg tabiat kita menjadi begitu keras dan kasar?

apakah tak lagi dapat kita rasakan beratnya amanah, sehingga dapat dengan mudahnya kita menghianati setiap kepercayaan yang dialamatkan kepada kita?

apakah tak ada lagi rasa kasih dan sayang tertinggal pada diri kita? hingga hidup kita dipebuhi oleh perkara-perkara yang buruk dan menjadi terkutuk?

tidak lagi ada kemuliaan hidup dan kesyahidan apabila tali-tali islam telah dicabut dari diri kita.

astagfirullahal ‘adziim…

Mencintainya SAW.

source : http://groups.yahoo.com/group/al-furqon-lines_06

by : syahidah mukhlishin

Mengaku mencintai adalah berat, tapi melakukan karena cinta adalah ringan.

ikhwah fillah, yuk qta evaluasi masing2 sejauh mana cinta qta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! untuk membaca email ini, lupakan dulu segala macam yang terpikirkan, jernihkan hati, merenung 10’ saja, bayangkan kisah yang dekat dengan kematian beliau. setelah itu, baca email ini dari atas ke bawah.

Bilal, budak hitam legam yang suara terompahnya terdengar di jannah
telah lama tak terdengar suaranya yang nyaring memanggil untuk shalat
dia tak pernah adzan lagi sejak Rasulullah saw wafat
kenapa dia disebut mu’adzin Rasulullah?

karena kerinduan yang besar untuk mendengarkan suara adzannya,
penduduk meminta sang Khalifah Umar agar Bilal mau adzan
Bilal menolak, Khalifah mendesak, Bilal naik ke atas menara
bukan tak mau, ada suatu alasan , meskipun akhirnya ia mencoba
maka Bilal pun memperdengarkan suara panggilannya
banyak suara yang tak kalah merdu, tapi nyaringnya itu benar2 menggema
ke semua penjuru hati jama’ah yang hendak shalat

Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Asyhadu alla ilaha illallah… Asyhadu alla ilaha illallah…
Asyhadu anna… Asyhadu anna…
<suaranya tercekat, berulang2; penduduk bertanya-tanya, ada apa dengan Bilal?>

lidahnya kelu. kata “muhammad” tak mampu diucapkannya,
adzan tak kunjung selesai
rindunya meradang; semakin berusaha, suaranya semakin bergetar
tak sanggup, tak sanggup
tangisnya pecah

orang2 yang mendengarnya takkan tahan untuk membendung air mata
bahkan, suara tangis Khalifah adalah yang paling keras
cinta telah hadir di setiap penjuru masjid saat itu
<mode off>

sudah selesai? bacalah lagi, bayangkan jika ikhwah ada di sana mendengarkan adzan bilal, dan ingatlah kecintaan kekasih Bilal kepada ummatnya. bagaimana di tha’if, bagaimana terhadap pengemis yahudi yang buta, bagaimana tangis kerinduannya kepada saudara2 yang berjarak waktu dengannya, bagaimana saat ajal menjemputnya, bagaimana lembut hatinya dan bagaimana dia mema’afkan.

sekarang hadirkan cinta dalam gerakmu
barakallah,,


berda’wah bukan artinya qta harus suci dulu, tetapi berda’wah adalah satu langkah agar dosa ketidaksucian qta tertutupi dengan pahala amal da’wah qta. bersegeralah kepada ampunan Allah. sesungguhnya mu’min itu tak pernah putus asa kepada rahmat Rabbnya.

bertahanlah karena Allah memanggilmu, tidakkah kau menyambut seruanNya?
ikhwah, kau kuat! tak pantang patah meski benturan demi benturan menghantammu
hanya karena ada iman di dadamu…

ini hanya pengantar saat luka duka menganga karena kaum pembenci tak berhenti menjelekkannya,
tidakkah kau ingin bertemu dengan orang yang di saat ajal menjemputnya pun, dia masih memanggilmu?

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad,,